Ayo anak2.. mari kita menyanyikan lagu Ibu Kita Kartini dengan ketukan nada awal do.re.mi.fa.so.mi.do… dan seterusnya.. mari kita mulai bersama-sama.. 1.. 2.. 3.. mulai..
Ibu kita Kartini..
Putri sejati..
Putri Indonesia..
Harum namanya..
Ibu kita Kartini..
Pendekar bangsa..
Pendekar kaumnya..
Untuk merdeka..
Wahai ibu kita Kartini..
Putri yang mulia..
Sungguh besar cita-citanya..
Bagi Indonesia..
Dududu… (sampe selesai, soalnya gw gak hafal :p)
Begitulah salah satu doktrin yang selalu diajarkan oleh guru2 kita sewaktu kita masih duduk dibangku SD sembari memainkan alat musik pada mata pelajaran kesenian. Lagu Ibu Kita Kartini adalah lagu wajib Nasional musik perjuangan karangan W.R. Supratman. Hmmm…
Setelah kita tumbuh menjadi dewasa, kita haus akan informasi, kita haus akan sumber kebenaran, kita haus mencari sesuatu yang betul2 sesuatu itu tanpa ada keberpihakan pada kepentingan suatu kaum atau golongan manapun.. tergelitiklah sebuah pertanyaan besar dalam diriku.. ???
Apakah betul Ibu Kita Kartini adalah putri yang sejati ?
seberapa sejatinya kah dia?
Apakah betul Ibu Kita Kartini Putri Indonesia?
Apakah betul Ibu Kita Kartini harum namanya ?
Seberapa harumkah nama Ibu Kita Kartini ?
Apakah betul Ibu Kita Kartini Pendekar Bangsa ?
Apakah tidak ada putri yang lebih sejati selain dari Ibu Kita Kartini ?
Apakah tidak ada putri yang lebih harum namanya selain dari Ibu Kita Kartini ?
Apakah karena Ibu Kita Kartini memperjuangkan emansipasi wanita, sehingga layak tgl 21 April menjadi Hari Besar Nasional?
Atau karna ada seorang sastrawan yang menerbitkan buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” menjadikan Ibu Kita Kartini Putri Indonesia?
& masih banyak pertanyaan lainnya.. fiuuhh..
siangnya pd tgl 21 april saya membuat status di Yahoo Messenger “menjadi pahlawan dengan sepucuk surat, ckckckck..” sepupu ku Oki sempat menanyakan ke saya : “Apaan tuh bang”, jawab saya “itu R.A Kartini” belum mencapai 1 detik sepupuku langsung merespon “saya setubuh dengan Abang (setuju)”, hehe..
silahkan teman2 membaca profil lebih lengkap tentang R.A. Kartini, di : http://id.wikipedia.org/wiki/Kartini (jangan lupa jg baca Point Kontroversinya yah, hehe :D)
maap yah Bu, saya tidak menyalahkan ibu.. abis di http://www.jagoan.or.id/ kok saya gak menemukan ibu disitu, saya cuma menemukan Cut Nyak Dhien & Cut Nyak Meutia sebagai pahlawan wanitanya. Saya cuma binggung aja, hmmm… mekanisme seperti apa yang digunakan dalam menentukan Pahlawan Wanita Indonesia terbaik. Apakah mekanisme Polling atau mekanisme Asal Bapak Senang :D
karena ini blognya isan, jadi perspektif pemikirannya pun pemikirannya si isan. Waduhh… hehe.. gak kok.. Saya coba untuk bersikap seadil-adilnya..
tapi jujur, mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang, asumsi dan nalar saya cuma mengarah dan terpaksa terpojokkan pada satu titik besar. Titik besar ini semakin terlihat jelas manakala kita melihatnya secara global dalam kacamata Tanah Airku Indonesia. Titik Besar ini mendominasi pada posisi2 jabatan strategis diseluruh Indonesia, yaitu posisi dimana jabatan itu tidak dapat dipilih oleh mayoritas masyarakat yang ada disuatu daerah. Titik Besar ini seringkali mengintervensi suatu daerah dengan regulasi & kebijakan yang berbelit, dan bahkan terkadang mematikan. Titik besar ini tidak lain saya namakan dengan “Ego Sukuisme” atau kita namakan “Imperialisme Sukuisme” yup.. betul.. terserah mo pilih yang mana..
sampai saat ini saya sangat sedih, Pelabuhan Sabang di Aceh yang dulunya merupakan lintas Jalur Sutra perdagangan dunia dibuat seperti laki-laki yang mandul. Pelabuhan Sabang memiliki nilai historikal yang sangat tinggi, selain dikarenakan letaknya yang sangat strategis pada peta dunia. Pelabuhan Sabang merupakan pusat perdagangan dunia yang dibanjiri pedagang asal Arab, Afrika, India, Sri Langka, & China. Hmm.. Sepertinya mereka tidak senang melihat Aceh ini maju. Begitu juga dengan Freeport yang kaya akan tembaga dan emas di Papua, sepertinya mereka juga tidak senang melihat penduduk Papua hidup dalam kemakmuran. Seandainya penentu kebijakan saat itu tidak mengedepankan Ego Sukuisme yang Superior dalam menentukan bagi hasil antara PT. Freeport dengan daerah, saya yakin Papua telah lama hidup dalam kemakmuran. Berkacalah pada Presiden Bolivia, Evo Morales wahai Indonesia Ku..
Dalam perspektif Nasional saya tidak melihatnya sebagai ancaman yang perlu dikhawatirkan. Yah.. kan bisa berdalih “Demi kesatuan NKRI”. Namun dalam perspektif lokal saya melihatnya sebagai ancaman yang merugikan daerah. Saya yakin jika Pelabuhan Sabang dikelola secara sungguh2 dan profesional dlm kurun waktu 5 tahun, maka akan memutar roda perekonomian Aceh dengan cepat juga tentunya akan mengurangi angka inflasi yang saat ini sudah mencapai angka 11%
Kembali ke Ibu Kita Kartini, yah gimana yah.. saya kurang setuju, gitu loh..
Bagi saya pribadi seseorang akan saya anggap sebagai pahlawan manakala, orang yang telah meninggal itu semasa hidupnya:
1. memperjuangkan kepentingan orang banyak selain kepentingan pribadinya
2. rela mempertaruhkan nyawanya demi memperjuangkan kepentingan orang banyak
3. melawan segala bentuk penjajahan di muka bumi.
Ini.. baru kriteria yang pas untuk pahlawan sejati.. cocok dah.. pokoke mantep punya.. hehe..
Cobalah teman2 membaca juga profile mulia dan luhur dari Cut Nyak Dhien di :
http://id.wikipedia.org/wiki/Cut_Nyak_Dhien
Plus bonus blog bagus mengenai Cut Nyak Dhien di :
http://kapallaoet.blogspot.com/2006/04/jika-seandainya-kartini-mengenal-cut_20.html
selamat membaca yah.. :D
Oiya.. sepertinya saya punya sistem yang mudah dan tepat dalam menentukan candidat yang cocok menjadi Pahlawan Wanita Sejati Indonesia, ketik Reg spasi nomor hp, hehe.. bukan2.. tapi ini nih caranya :
1. Buka Internet Browser, boleh apa aja
2. Ketik http://www.google.com/
3. Masukkan gelar dan nama pada pencarian, contoh : (Cut Nyak Dhien, Raden Ajeng Kartini)
Angka penelusuran tertinggilah yang berhak dinobatkan sebagai Pahlawan Wanita Sejati Indonesia,
And the winner goes to :
Wow.. fantastis.. Cut Nyak Dhien memperoleh 267.000 (74.8%) sedangkan Raden Ajeng Kartini memperoleh 89.900 (25.2%) hip..hip.. hore.. hehe..
Saya harap kedepannya Indonesia tidak mengedepankan lagi unsur-unsur Ego Superior dari kalangan suku tertentu dengan pola mendominasi struktur departemen, organisasi, dsb di daerah-daerah. Kalo memang bekerja bagus, sesuai target, mengikuti prosedur, bolehlah.. yang parahnya kan kalo gak bertanggung jawab, tidak mau dikoreksi, dan cendrung membuang kesalahan kepada orang lain.
hal ini memang sulit, karena kita sepertinya akan melawan sebuah Kerajaan Besar Kuno yang pola perekrutannya mengunakan cara yang sangat tua tetapi sistematis.